BUDAYA BARTER PADA SUKU TOLAKI
Toraja Internasional Festival 2017

By esya_raya_abadi 03 Apr 2018, 17:12:39 WIB Internasional
BUDAYA BARTER PADA SUKU TOLAKI

Keterangan Gambar : Bupati Kaimana


BUDAYA BARTER PADA SUKU TOLAKI DI Kabupaten Kolaka Utara, Kali ini melihat bagaimana nilai-nilai keraifan lokal masyarakat suku tolaki masih bisa bertahan di jaman modern serba canggih yang telah mengenal mata uang, mesin ATM, bahkan sistim penjualan secara online di internet. 

Saya sangat tertarik mengakat tema ini, karena bagi saya,  ada nilai-nilai kekeluargaan, dan kepercayaan serta relasi yang kuat antara dua kultur berbeda, yang patut dijadikan tauladan bagi kita kaum muda, yang semakin mengalami “krisis nilai dan kirisis kebudayaan”.


saya meminjam istilah krisis nilai dan kirisis kebudayaan” sebagai istilah, dari kurangnya komunikasi langsung face to face, yang sarat nilai-nilai kebersamaan dan kekeluargaan yang kental,serta hilangnya kepedulian kaum muda terhadap nila-nilai budaya lokal, akibat kecanggihan teknologi menyulap dunia baru, dunia sosial media yang bermerk; BBM, Facebook, Twiter, google, Path,  instagram, pinterst, forsquare, tumbl, You tobe dll yang melahirkan penyakit sosial baru yakni kecanduan media sosial 


Selain itu, ada  rasa bangga,  melihat fenomena yang telah di contohkan oleh ibu saya, yang merupakan salah satu  dari bagian penting, dari bertahanya budaya barter pada suku Tolaki. Meski ibu saya bukan berasal dari suku tolaki melainkan suku bugis namun hubungan emosional yang telah di bangunya dengan masyarakat suku tolaki ini sungguh indah rasanya.

Desa Kondara terletak  di Kelurahan Olo oloho, Kecamatan Pakue Kabupaten Kolaka Utara. Daerah Kabupaten Kolaka Utara merupakan daerah yang berada di Tenggara Pulau Sulawesi dan secara geografis terletak pada bagian Barat. Kabupaten Kolaka Utara memanjang dari Utara ke Selatan berada di antara 2o 46'45" - 3o 50'5" Lintang Selatan dan membentang dari Barat ke Timur di antara 120o 41'16" - 121o 26'31" Bujur Timur.

Suku tolaki, di kabupaten Kolaka Utara biasanya menempati desa-desa dimana desa itu dihuni oleh mayoritas masyarakat se suku mereka. Almarhum Abbah (bapak) saya, yang juga sepanjang hidup beliau banyak membangun relasi dengan pendudk suku tolaki,  pernah bercerita, mengenai kebiasaan masyarakat suku tolaki, menurut beliau dahulu kala masyarakat suku tolaki di kabupaten Kolaka utara khususnya lagi di desa kondara, adalah masyarakat yang sangat tertutup.


 Mereka tidak menyukai hidup berbaur dengan masyarakat suku lain, bila ada suku lain (suku bugis, tator dan jawa)  yang datang ke wilayah pertanian yang menjadi lahan mereka, mereka akan pindah ke wilayah lain dan membuka lahan baru di daerah yang tidak berbaur dengan suku lain yang merupakan penduduk pendatang (transmigraan). 


Namun lambat laun kebiasaan berpindah-pindah tempat tersebut akhirnya tidak bertahan dan sebagai gantinya mereka memilih menetap di sebuah perkampungan atau desa yang mayoritas penduduknya adalah se-suku mereka, dan hingga kini mereka mulai berbaur bahkan membangun hubungan kekeluargaan yang kuat, awalnya sebatas hubungan perdagangan yang kebanyakan dengan system “barter” hingga membangun hubungan kekerabatan dengan pernikahan dengan suku lain.

Sistem barter merupakan metode lama yang manusia gunakan untuk bertukar barang maupun jasa. Sistem ini manusia gunakan selama berabad-abad sebelum uang ditemukan. Setelah manusia mengalami beberapa kesulitan di dalam menggunakan barter sebagai model pertukaran, digunakanlah uang sebagai alat tukar.Praktik barter pada Suku Tolaki, tidak jauh berbeda dengan daerah-daerah lain. Pertukaran barang mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, proses ini telah berlangsung turun temurun.

Dari penelusuran yang dilakukan oleh,  Muh. Yasir Takwin, (2013). yang melakukan penelitaiaan mengenai, Sejarah Barter Pada Suku Tolaki, terkait kapan awal mula praktik barter di lakukan di masyarakat Tolaki, belum diketahui secara pasti.
Namun dipastikan telah berlangsung lama, bahkan sebelum uang digunakan oleh masyarakat. Walaupun pada tahun 1990 uang sudah banyak beredar, namun praktik barter masih menjadi pilihan buat masyarakat Desa Kondara.

 

 
 
 
 
 
 
 

 
 
 
 
 
Desa Kondara merupakan daerah penghasil bakkaweng (atap jerami) dan tawaro (sagu). Dan hingga saat ini praktik barter masih mereka lakukan terhadap beberapa jenis barang seperti bakkaweng (atap jerami), tawaro (sagu), durian dan ikan. Biasanya Dari jenis barang tersebut, Dua kelompok masyarakat akan bersepakat untuk saling mengisi kebutuhan dengan melakukan barter.
Suku Tolaki  terkenal cakap sebagai pengrajin bakkaweng (atap rumbia) dan mengolah tawaro (sagu) sebagai bahan utama pangannya. Selain dua jenis barang tersebut, sebagian besar masyarakat, juga mengenal beberapa komoditas perkebunan seperti; kakao, cengkeh dan durian. Komoditas perkebunan ini memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi, sehingga kemudian mempengaruhi penggunaan uang sebagai alat transaksi yang kemudian mulai menggeser praktik barter pada masyarakat Suku Tolaki.
 
 
 

Jenis barang yang dipertukarkan semakin beragam khususnya jenis pangan. Beras, dan tembakau kemudian meramaikan praktik barter di masyarakat suku Tolaki di Desa Kondara Kabupaten Kolaka Utara.


Tradisi barter secara tidak langsung sangat bergantung dengan komoditi di daerah ini atau bisa dikatakan barang ataupun jasa menjadi penopang keberlanjutan dari praktik barter dalam sebuah masyarakat.


 Walaupun sebenarnya ada faktor-faktor lain yang turut menopang keberlangsungan praktik barter
Tentunya selain ketersediaan barang, ada nilai-nilai dalam proses barter yang menjadikannya masih tidak tergantikan oleh alat pembayaran barang berupa uang. Perbedaan karakteristik yang membedakan praktik barter di Suku Tolaki dengan daerah lain ada pada tempat dilakukannya proses barter. Suku Tolaki tidak menjadikan pasar sebagai satu-satunya tempat kegiatan barter, tetapi mereka melakukannya di tempat-tempat lain. Barang sebagai pondasi keberlangsungan praktik barter tetap menjadi faktor utamanya.


Hingga saat ini kegiatan tukar menukar barang masih kerap dilakukan oleh masyarakat Tolaki di Desa Kondara. Walaupun jumlahnya terus berkurang dan digantikan oleh alat tukar uang
Di awal tulisan saya telah, menyebutkan ibu saya menjadi bagian yang penting dari bertahanya  budaya barter di suku tolaki di daerah kabupaten Kolaka utara, desa kondara. keterlibatan ibu saya dulunya, adalah sebagai salah satu pedagang yang target pasarnya adalah penduduk suku tolaki, di desa kondara, sebuah desa yang masih  merupakan tetangga desa kami, adapun metode penjualan yang lebih banyak dilakukan ibu, berbeda dengan pedagang lain yang biasanya dilakukan di pasar sehingga transaksi berlangsung di pasar.

Di desa ini, pasar adalah pusat kegiatan perdagangan kebutuhan pokok masyarakat. Dan hari pasar hanya 2 kali seminggu. Adupun cara ibu menjajangkan daganganya dengan dor to dor. Biasanya barang yang di bawah ibu saya tergantung pesanan pelangganya yang merupakan suku tolaki. Barang-barang tersebut berupa pakaian, ataupun kebutuhan perlengkapan rumah lainya seperti taplak meja, kain gorden, dll. Yang kemudian akan ditukar dengan hasil pertanian seperti durian, sagu maupun atap rumbia


Dalam transaksi dengan pelanggan, alat tukar resmi utama yang di digunakan adalah, uang tunai, namun dalam proses intreaksi yang terjalin secara kekeluargaan dimana telah terjalin ikatan emosional dan saling kepercayaan antara mereka, serta didukung oleh kepekaan dan kesadaran ibu mengenai kondisi keterbatasan perputaran uang. Yang mana Di desa ini penghasilan penduduk yang mayoritas petani coklat, durian maupun sagu sangat tergantung dengan hasil panen.Sehingga terjadi kompromi, pembayaran dilakukan saat musim panen dan alat tukar pun terkadang di gantikan dengan barang. 


Maka terjadilah  budaya barter yang  didasari oleh kepercayaan yang tinggi, kejujuran dan hubungan saling membantu dan menguntungkan antara kedua belah pihak, yang masih dipertahankan hingg saat ini.


Pola hubungan saling membantu, yang dalam budaya tolaki dikenal dengan istilah kalo (semangat persatuan) dan menguntungkan menjadi landasan nilai praktik barter yang masyarakat Tolaki lakukan. Keterbatasan pengelolaan alam kemudian menjadi faktor eksternal yang mendorong mereka saling bertukar barang.

 

Jadi praktik barter bukan semata karena alasan ekonomi, namun ada nilai-nilai kearifan lokal dan spiritualitas yang turut bersama praktik barter ini. Nilai-nilai yang semakin hilang dalam konteks kekiniaan, khusunya bagi generasi yang lahir dan besar bersama dengan kecanggihan teknologi gadget, generasi yang memilih berkomunikasi melalui facebook dengan teman media sosialnya di negara lain ketimbang menyapa tetangga ataupun berdiskusi dengan teman se kelasnya.
Generasi yang “autis”, yang terpenjara dengan dunia game yang di bangun oleh kecanggihan teknologi, sehingga lupa cara dan etika berkomunikasi langsung, secara lisan. Ya, generasi dimana saya, anda, dan kita semua adalah pelakunya, pelaku sejarah yang harusnya belajar dari nilai-nilai kearifan lokal masyarakat yang jika tidak dipertahankan hanya akan menjadi dongeng pengantar tidur bagi anak cucu kita kelak.




Video Terkait:


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Write a comment

Ada 2 Komentar untuk Berita Ini

  1. Robby Prihandaya 24 Jul 2014, 09:29:20 WIB

    p****t negara yahudi yang sangat perlu untuk dihancurkan / musnahkan dan bantai seluruh warga israel..!!!

    Edo Ikfianda 09 Agu 2014, 17:34:35 WIB

    Setelah membentuk Timnas, PSSI versi KLB pimpinan La Nyalla Mahmud Matalitti menunjuk Alfred Riedl sebagai pelatihnya.

View all comments

Write a comment

Loading....



Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat

Potensi apa, di Kolaka Utara yang perlu dikembangkan?
  Pertambangan
  Unit Kegiatan Masyarakat
  Kelautan
  Perinsdustrian
  Perikanan

Komentar Terakhir

  • Tommy Utama

    Para pengunjuk rasa membawa bendera-bendera Palestina dan foro-foto pemimpin tertinggi ...

    View Article
  • Edo Ikfianda

    Setelah membentuk Timnas, PSSI versi KLB pimpinan La Nyalla Mahmud Matalitti menunjuk Alfred Riedl ...

    View Article
  • Robby Prihandaya

    pantat negara yahudi yang sangat perlu untuk dihancurkan / musnahkan dan bantai seluruh warga ...

    View Article

Video Terbaru

View All Video